Tewasnya seorang gembong teroris
01.42 Posted In Berita , Nurdin M Top Edit This 0 Comments »Kapolri Pastikan DNA Noordin Cocok 100 Persen
KAPOLRI Bambang Hendarso Danuri (BHD) memastikan hasil tes DNA Noordin sudah selesai. Meski 100 persen match (cocok), BHD meminta jenazah Noordin M. Top tidak segera dipulangkan ke Malaysia. Polri sudah berkoordinasi dengan Departemen Luar Negeri, namun masih ada beberapa hal yang prosesnya menunggu. BHD meminta keluarga di Malaysia tidak terburu-buru mengambil jasad Noordin. Keluarga perlu menunggu izin dari Polri. "Sabar sebentar," kata BHD di Istana Negara kemarin (18/09).
Kapolri menambahkan, pihaknya sudah sangat yakin bahwa identitas jenazah itu adalah Noordin.
Dasarnya, sidik jari yang dikirim Polisi Diraja Malaysia sudah cocok 100 persen sehingga tidak ada keraguan. "Masak kita mau menentukan seseorang atas desakan dari pihak mana pun? Tidak itu. Masak kita tidak profesional. Kita tidak ada kepentingan dengan siapa pun yang menekan," ujar BHD.
Kendati Polri sudah menyebut nama empat jenazah teroris hasil penggerebekan di Dukuh Kepuhsari, Mojosongo, Jebres, Solo, proses forensik masih terus berjalan. Saat ini, tim forensik di Rumah Sakit Pusat Kepolisian Sukanto (RS Polri) mengotopsi empat mayat itu. ''Harus dipastikan, bagaimana proses kematian mereka. Apa penyebab mereka tewas,'' kata Direktur RS Polri Aidy Rawas kepada Jawa Pos kemarin.
Aidy belum bisa menjamin kapan otopsi itu rampung. Namun, kata dia, proses otopsi biasanya memakan waktu 30 jam. ''Selesainya ya bergantung pada tim forensik. Kalau mereka mau selesai cepat, ya bisa,'' katanya. Selain otopsi, tambah Aidy, pihaknya juga harus menyelesaikan proses identifikasi terhadap Ario Sudarso alias Aji, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, dan Hadi Susilo alias Adib. Khusus terhadap tiga jenazah itu, kata Aidy, ada kesulitan dalam identifikasi. Sebab, pihaknya tidak memiliki data pembanding sebelumnya.
Karena itu, RS Polri masih menunggu data itu dari pihak keluarga tiga jenazah tersebut. Antara lain, data sidik jari, susunan gigi, ciri fisik khusus, dan DNA. ''Sidik jari mungkin bisa diambilkan dari ijazah. Kami masih menunggu keluarga untuk membawa data itu. Sore ini (petang kemarin, Red) sampai ke sini sampel-sempelnya '' ujarnya.
Identifikasi terhadap Noordin paling mudah. Sebab, Polri sudah mendapatkan 14 ciri khas sidik jari Noordin. Apalagi, untuk identifikasi dengan tes DNA, Polri sudah memiliki data pembanding. Yakni, DNA dari anak Noordin di Kuningan dan Malaysia.
Evakuasi Sulit
Proses evakuasi mayat Noordin M. Top, ternyata lebih sulit daripada pengangkatan jenazah tiga tersangka teroris yang lain. Mayat Noordin harus ditarik dengan menggunakan tali sepanjang 20 meter. Saat ditarik, organ kepala Noordin berceceran.
Suratmin, ketua RT 3 RW 11, Kampung Kepuhsari, kemarin siang (18/9) mengungkapkan, di antara empat mayat yang ditemukan, jenazah Noordin paling akhir dievakuasi. Sebab, saat itu Noordin diduga masih memegang bahan peledak.
''Setelah tiga mayat dievakuasi keluar rumah, dua anggota Densus mengikat kaki kanan mayat itu (Noordin) dengan tambang. Setelah itu, mayat tersebut ditarik keluar sekitar empat meter dari rumah,'' kata Suratmin.
Mayat itu ditarik keluar melalui lubang tembok kamar mandi yang jebol akibat ledakan. Saat jenazah ditarik, Suratmin melihat organ kepala Noordin berjatuhan. Oleh tim Densus, isi kepala Noordin dikumpulkan. ''Ceceran organ kepala itu kemudian dimasukkan ke kantong mayat,'' kata Suratmin.
Setelah diperiksa, mayat tersebut dimasukkan ke mobil jenazah. Kemudian, Suratmin bersama Sri Wahyono, Lurah Mojosongo, dan sekitar tujuh anggota Densus 88 diajak masuk ke rumah untuk memeriksa dan menyaksikan sejumlah barang bukti yang ditemukan.
Saat masuk ke rumah itu, di salah satu kamar dia melihat beberapa arsip yang sebagian sudah terbakar dan beberapa bagian yang lain utuh. Dia juga sempat melihat barang bukti lain seperti laptop, buku rekening tabungan, uang tunai sekitar Rp 7,5 juta dalam bentuk pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu, handycam, bahan peledak, dan beberapa kabel. (sof/aga/in/nan/jpnn/iro) Dikutip dari Jawa Pos edisi 19 September 2009
0 komentar:
Posting Komentar